Alhamdulilah saya bisa menuangkan satu lagi tulisan ke dalam blog ini setelah ‘mandul’ dari tahun kemarin. Miris… seperti judulnya!

Miris kali ini hanyalah salah satu dari sekian banyak perasaan miris yang menumpuk tentang hidup ini.

Di tengah deadline bab 2 tesis yang sebetulnya sudah telat, saya putuskan untuk sebentar singgah di blog ini. Kali ini cerita saya tentu ada hubungannya dengan bab 2.

Saat ini, saya masih terus berusaha menghubungi PT. Garam untuk permohonan data dan kalau memungkinkan, ya wawancara. Meski sebetulnya, ada perasaan sulit sekali menembus birokrasi di sana. Semoga hanya perasaan..

Sambil masih mencari data tentang PT. Garam, saya menemukan skripsi salah satu mahasiswa Perbanas Surabaya yang judulnya : “Implementasi Tanggungjawab Sosial Perusahaan Berdasarkan Global Reporting Inisiative pada PT.Garam”. Sebuah judul yang menurut saya ‘positif’ sekali bagi si perusahaan. Tapi di sisi penulis, menurut saya tidak ada tantangannya. Sepintas pikiran sombong saya seolah mengejek, “Tidak ada susahnya menulis tentang kebaikan orang toh.” Beda dengan kalau ingin mengritik orang, mesti ada pembuktiannya disertai data pendukung dan fakta sehingga tidak jadi fitnah.

Di sela-sela perasaan itu, senang saya menemukan fakta bahwa si penulis skripsi dapat mewawancarai salah satu pejabat di sana. Tapi sayang, hasilnya jauh di bawah harapan saya.

Hari Rabu

Tanggal 28 Juli 2010

Jam 10.00

Wawancara mengenai Tanggunjawab Sosial Perusahaan PT. Garam

Penulis: Asalamualaikum, boleh saya tahu nama bapak ?

Narasumber: Bp. Matriaji

Penulis: Apakah PT Garam melakukan tanggungjawab sosial perusahaan?

Narasumber: Iya

Penulis: Seperti apa bentuk pelaksanannya?

Narasumber: Program Kemitraan dan Bina Lingkungan

Penulis: Program PKBL itu dilaksanakan di mana?

Narasumber: Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Detailnya dapat dilihat dalam dokumen PKBL.

Penulis: Dari dokumen yang bapak berikan, mengapa data-data pelaksanaan pada tahun terbaru tidak ditampilkan?

Narasumber: Itu terkait dengan rahasia internal perusahaan.

Penulis: Apakah program ini dilaksanakan sesuai panduan GRI?

Narasumber: sebagian saja.

Penulis: Panduan GRI itu memuat 6 aspek: ekonomi, lingkungan, HAM, praktek tenaga kerja, produk, dan masyarakat. dari 6 itu, apa saja yang dijalankan pt. garam?

narasumber: ekonomi dari ec1 sampai ec3, lingkungan en1, en3 dan en9, serta masyarakat s01.

penulis: oh ya pak, apakah ada alasan mengapa beberapa aspek tidak diungkapkan?

narasumber: karena itu terkait dengan beberapa rahasia perusahaan, kepentingan perusahaan di masa mendatang, dan kepentingan stakeholder. 

dan wawancara pun selesai..

yang nanya ya begitu, yang jawab pun ya begitu. semoga tanya jawab yang mengapung tak tentu arah ini karena memang pertanyaannya ga berbobot. semoga salahnya ada pada si pewawancara bukan narasumber. tapi tunggu dulu, kalau diresapi lagi bukan hanya karena si pewawancara yang ‘oon’, tapi narasumbernya juga. tercermin dari kalimat sok tau yang ia ulang dua kali, “mengenai rahasia internal perusahaan, kepentingan perusahaan di masa akan datang.” Hei! sebetulnya inti dari skripsi itu untuk ngangkat-ngangkat perusahaan lu juga kaleeee.

sambil menghela napas panjang, saya bergumam dalam hati, “apa kabarnya kalo gw jadi wawancara sama orang pt. garam yang mana judul tesis gw adalah Kebijakan Impor Garam Indonesia: Implikasi Liberalisasi Perdagangan terhadap Produksi Garam Nasional. Sebuah judul yang sudah jelas-jelas tidak menguntungkan pt. garam”

Miris kan?!