One Day No Rice. Kampanye ini terpasang pada banner situs Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Ketahanan pangan Indonesia memang terancam, jika dilihat dari kekurangan dalam penyediaan stok pangan, bahkan setelah usai era Orde Baru, ditandai dengan meningkatnya impor beras secara signifikan. Menurut data dari Kementerian Pertanian, jumlah impor beras dari Januari s.d September 2006 mencapai 281.847.985 kg dari 13 negara pengekspor seperti Jepang, Hongkong, Korea, China, Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, India, Australia, Amerika Serikat, Belanda, dan Italia. Tentu ini bukanlah sebuah prestasi mengingat Indonesia sendiri dikenal dengan sebutan negara agraris dengan lahan yang sangat subur dan potensial untuk wilayah pertanian. Semestinya, Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor beras, meski pada kenyataannya malah berbalik. Jika ditanya mengapa ini terjadi, maka salah satu yang bisa jadi penyebabnya adalah kurang seriusnya pemerintah dalam menangani bidang pertanian termasuk ketidakmampuan mengeluarkan kebijakan demi pengembangan sektor ini.

Lalu, timbullah pertanyaan tentang apa solusi yang bisa dijalankan Indonesia dalam menyikapi ketergantungan impor beras demi memenuhi kebutuhan beras yang semakin meningkat? Beberapa kampanye seperti mengurangi konsumsi nasi, “One Day No Rice atau konversi bahan pangan dari beras ke bahan pangan lain seperti ketela, jagung, sukun, atau kentang sudah dilakukan. Pun, dengan menjalankan swasembada beras[1] tahun 2008 di bawah pimpinan Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Terlepas dari semua solusi tersebut, tulisan ini mencoba menawarkan solusi lain mengenai pengalihan beras sebagai kebutuhan pokok, yang dilihat dari perspektif kesehatan atau lebih tepatnya gaya hidup sehat. Solusi ini juga diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan manusia Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras. Untuk itu, pembahasan lebih lanjut akan diuraikan seperti berikut.

Ketergantungan terhadap Impor Beras: Ancaman Ketahanan Pangan

Definisi ketahanan pangan menurut FAO (2009), adalah bahwa “Ketahanan pangan akan bisa tercapai ketika semua orang di setiap saat secara fisik, sosial, dan ekonomi punya akses untuk memperoleh makanan bernutrisi yang cukup, aman, dan bernutrisi demi memenuhi kebutuhan pola makan dengan makanan yang bervariasi untuk tercapainya hidup sehat dan aktif.” Ketahanan pangan ini berlaku di segala tingkat, mulai dari individu, komunitas sosial, negara, maupun secara internasional. Namun di sisi lain, ketahanan pangan juga dikritisi karena banyak indikator yang membuat realisasi ketahanan pangan sulit tercapai. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor ekologi, sosial, ekonomi dan politik. Misalnya timbul opini, istilah ketahanan pangan lebih cocok bagi negara-negara maju yang sudah tercukupi kebutuhannya dan justru cenderung mengalami obesitas. Sementara, bagi negara miskin dan berkembang, yang paling tepat adalah istilah kedaulatan pangan. Alih-alih mempertahankan kebutuhan pangan, untuk memperoleh makanan saja masih sulit. Penyebabnya antara lain harga kebutuhan pokok yang terus naik, ditambah perubahan lingkungan dan iklim yang kurang mendukung proses bercocok tanam.

Lalu, di mana posisi Indonesia dalam hal ketahanan ini, terutama menyangkut tanaman pangan seperti beras sebagai kebutuhan paling pokok hingga saat ini. Menurut data statistik yang dihimpun dari situs Kementerian Pertanian Republik Indonesia, akan terlihat beberapa indikator yang menunjukkan status ketahanan beras Indonesia.

Ekspor Beras Indonesia Per Negara Tujuan

Negara Tujuan

2002 (Apr – Nov)

2006 (Jan – Des)

Volume (kg)

Nilai (US$)

Volume (kg)

Nilai (US$)

Singapura

103,450

40,200

279,001

218,791

Malaysia

382,219

99,583

273,800

177,600

Saudi Arabia

2,281

3,165

Timor Leste

979,715

88,995

246

98

Bolivia

21,000

239,768

Jepang    

111,022

30,731

Hongkong    

1,590

2,738

Taiwan    

499,839

173,607

Filipina    

2,000

920

Maldives    

1,917

2,473

Australia    

6

8

Vanuatu    

163

432

Amerika Serikat    

6,646

14,164

Belanda    

552

1,213

Jerman    

370

3,079

Total

1,488,765

239,768

1,177,152

625,854

Sumber: http://database.deptan.go.id/eksim/hasileksporKomoditi.asp

Impor Beras Indonesia Per Negara Tujuan

Negara Tujuan

2002 (Apr – Nov)

2006 (Jan – Sept)

Volume (kg)

Nilai (US$)

Volume (kg)

Nilai (US$)

Jepang

689

2,441

8,124

20,317

Korea

242

270

Hongkong

8,149

7,926

China

79,140,583

16,027,985

1,935

3,200

Thailand

285,065,901

38,029,678

1,170,816

849,031

Singapura

5,635,541

643,179

172,447,677

48,823,422

Malaysia

67,132,833

8,963,515

1,377,372

617,957

Myanmar

62,359,726

6,343,961

Viet Nam

375,474,724

67,584,048

84,380

40,815

India

240,310,822

28,437,508

104,636,782

31,201,350

Pakistan

13,883,400

1,639,516

Virgin Island

47,000

18,381

Mauritius

32,761

5,808

Australia

5,027,210

1,330,633

559,675

523,834

Amerika Serikat

7,936,315

2,170,940

698,428

371,832

Canada

9,020

10,669

Venezuela

19,000

8,420

Belanda

4

14

Italia

757

843

Total

1,142,075,767

171,216,352

281,847,985

83,217,040

Dari definisi ketahanan pangan oleh FAO, kata kuncinya adalah pasokan jumlah persediaan, harga yang terjangkau, dan keberlangsungan persediaannya. Dari data statistik di atas, terlihat bahwa impor beras meningkat dalam 4 tahun (tahun 2002-2006). Bahkan, peningkatan ekspor yang terjadi tidak dapat mengimbangi kenaikan impor yang meningkat pesat tersebut. Ketidakseimbangan ini menunjukkan kebergantungan Indonesia pada impor beras. Menurut McDonald, ketahanan atau keamanan yang menyangkut pangan dan kesehatan memang masih merupakan isu keamanan baru dan belum lazim dibandingkan keamanan militer. Namun hal ini nyata adanya dan sudah menjadi permasalahan global sehingga setiap pembuat kebijakan sudah semestinya mengkonseptualisasikan definisi keamanan menyangkut isu-isu baru ini. Untuk itu, salah satu kebijakan dari pemerintah Indonesia adalah dengan mencanangkan konversi bahan makanan pokok dari beras ke komoditas lain seperti sagu, jagung, kentang, ketela. Langkah ini bertujuan untuk mencapai ketahanan pangan nasional sebagai ‘penawar’ terhadap kebergantungan dengan beras.

Menyoal Dampak Beras bagi Kesehatan

Fakta ilmiahnya sungguh mencengangkan, tapi selama ini entah tersembunyi entah disembunyikan. Bahkan, sejak menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar, yang diajarkan adalah bahwa 4 sehat 5 sempurna terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, ditambah dengan susu. Sumber karbohidrat utama dan yang paling pokok dikenal adalah nasi/beras. Sementara itu, tidak pernah dikenalkan selama ini dalam pendidikan biologi dasar bahwa ada jenis karbohidrat yang baik dan buruk. Karbohidrat baik memiliki syarat: nilai indeks glikemik rendah, artinya tidak terlalu cepat diubah menjadi gula darah dalam 2 jam; memiliki kandungan serat sebagai alat kendali kecepatan diubah menjadi gula darah; memiliki kapasitas antioksidan tinggi; bersifat alkalis, bukan asam karena sifat asam bisa merusak organ tubuh.[2]

Sayangnya nasi, beras, tepung/pati, termasuk roti memiliki indeks glikemik ≥ 100%. Ini artinya, termasuk ke dalam golongan karbohidrat buruk. Bahan pangan ini juga merupakan karbohidrat yang nyatanya cepat diubah menjadi gula/glukosa dalam 1-1,5 jam setelah dikonsumsi. Gula yang masuk ke dalam tubuh ini tak seluruhnya langsung terpakai dan akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Jadi, jelas kegemukan menjadi manifestasi selanjutnya. Selanjutnya, kandungan gula yang tinggi dalam aliran darah juga mendorong penuaan lebih cepat.

Di dalam tubuh, terdapat insulin yang semula bertujuan ‘baik’ menjaga kadar gula tetap pada level aman. Namun, jika yang dikonsumsi tubuh adalah selalu karbohidrat tepung (dalam sehari sampai 3 kali), maka ini akan memperberat kerja insulin dalam menekan kadar gula dan menyimpannya dalam otot dan hati. Sehingga, otomatis kadar insulin juga meningkat seiring ada lonjakan gula yang juga tinggi akibat mengonsumsi nasi.

Solusi Baru yang Lebih Sehat bagi Masalah Ketahanan Pangan

Konversi beras dengan komoditas tanaman pangan seperti sagu, kentang, roti, ketela sebetulnya kurang tepat. Karena, semua komoditas ini termasuk ke dalam karbohidrat tepung yang seperti halnya nasi, merupakan karbohidrat buruk karena mengandung indeks glikemik tinggi. Pun, tanaman pangan ini tergolong murah dan mudah di dapatkan di seluruh Indonesia, namun ada solusi lain yang tidak pernah dipikirkan akibat ‘penyesatan’ ilmu yang telah terjadi selama ini. Tanaman pangan yang sebetulnya mengandung karbohidrat baik adalah sayur dan buah, dengan catatan yang masih mentah atau belum dimasak. Ini juga yang dikonsumsi oleh para nenek moyang dahulu. Coba bandingkan dengan mereka yang punya usia lebih lama, hingga mencapai usia 100 tahun ketimbang manusia modern yang pada umur 50-60 sudah sakit-sakitan. Termasuk, penderita kanker kini sudah merambah usia lebih muda, sekitar 20-an. Namun, para ahli nutrisi, dokter, praktisi kesehatan dan dunia medis di Indonesia terlanjur menganggap bahwa sayur dan buah hanya mengandung vitamin dan mineral saja. Meskipun, ada juga para pakar holistik dan herbal yang telah mengabaikan nasi dan mengonsumsi sayur dan buah sebagai sumber karbohidrat. Sayur dan buah memenuhi syarat-syarat sebagai karbohidrat yang baik (seperti disebutkan di atas).

Jika pemerintah bisa mencanangkan konversi beras ke jenis karbohidrat tepung lainnya, maka seharusnya pemerintah juga bisa mencanangkan konversi beras ke jenis karbohidrat sayur dan buah. Dalam seporsi makanan, perlu karbohidrat baik, lemak, dan protein. Untuk sekali makan, diperlukan karbohidrat sayur seperti satu ikat selada dengan campuran buah. Untuk lauknya, seperti biasa saja dengan pengolahan makanan yang lebih tepat untuk menjaga kualitas dan kandungan sehatnya.

Memang, kendalanya adalah penolakan dari sebagian besar lidah masyarakat yang sudah terbiasa dengan karbohidrat tepung karena memberi rasa kenyang (padahal, sayur juga demikian). Apalagi anggapan yang berlaku adalah, “belum makan rasanya kalau yang dimakan bukan nasi.” Namun, dalam praktiknya, majalah kesehatan selama ini punya peran dalam membentuk pengetahuan masyarakat terutama para pembacanya mengenai sumber karbohidrat baru. Dari pengamatan selama ini, majalah gaya hidup sehat seperti Prevention Indonesia konsisten dalam memberikan pengetahuan semacam ini.

Kendala yang lain adalah, pengeluaran untuk kebutuhan macam sayur dirasakan lebih besar atau lebih mahal. Namun, jika diatur dan dibantu oleh kebijakan pemerintah, maka bukan tidak mungkin hal ini dilakukan. Toh, pencanangan konversi beras sudah dilakukan, hanya saja perlu diarahkan ke alternatif jalan yang benar demi kualitas kesehatan manusia Indonesia yang lebih baik. Ada contoh kasus yang bisa dijadikan motivasi kalau kebutuhan sayur murah sebenarnya bisa terpenuhi. Seperti yang dilakukan bidan Emmy Riswati, yang mengajak penduduk di sekitar tempat tinggalnya untuk menanam sayur secara organik sehingga konsumsi sayur bisa lebih aman dan terbebas dari bahan kimia. Penanaman sayur ini dilakukan secara mandiri oleh setiap rumah tangga di desa Limbangan, Kendal dengan memanfaatkan limbah dapur rumah tangga sebagai media tanam dan pupuk. Sebuah upaya sederhana yang kini sudah dilakukan oleh warga di desa Limbangan dan dari sini, didapat data ada peningkatan kualitas gizi para balita di sana.[3]

Kesimpulan

 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan perlu disikapi dengan kebijakan yang lebih serius dari pemerintah. Mungkin, dari berbagai aspek dan sisi, kebijakan mengonversi karbohidrat tepung menjadi karbohidrat macam sayur dan buah akan mengalami tantangan yang besar, namun bukannya tidak mungkin. Negara-negara maju yang malah mengekspor beras semacam Amerika sadar betul akan pola makan dan gaya hidup sehat ini. Ekspor beras yang mereka lakukan bukan karena ada kelebihan produksi beras yang mereka konsumsi, tetapi semata-mata demi perdagangan dan mencari untung dengan menjual ke negara-negara yang sangat bergantung kepada beras. Sementara Indonesia, bisa saja melakukan swasembada beras untuk mengurangi ketergantungan ini namun pada pelaksanaannya, selalu terputus di tengah jalan. Akhirnya, ditempuhlah cara konversi. Cara ini boleh saja, asalkan disertai informasi yang berimbang. Pemerintah wajib untuk memberikan informasi yang jelas pengganti beras yang layak dikonsumsi. Di sisi lain, manusia dan masyarakat pun sembari aktif mencari tahu dan menentukan/membuat pilihan apa yang dibutuhkan oleh tubuh mereka.

Para praktisi medis seharusnya meng-update pengetahuannya sehingga dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan bebas kelaparan. Bukannya malah mementingkan kantong pribadi dengan mengambil kesempatan dalam wacana industri kesehatan. Seperti yang dikemukakan oleh Thomas Alva Edison, “Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan. Mengenai masalah pola makan dan penyebab serta pencegahan penyakit.” Seorang pendiri Mayo Clinic, William J. Mayo, mengemukakan hal yang sama, “Tujuan ilmu kedokteran adalah mencegah penyakit dan memperpanjang hidup. Cita-cita ilmu kedokteran adalah menghapus kebutuhan akan dokter.” Sementara pepatah China lebih tegas lagi dalam menyampaikan hal ini, “Dokter yang bagus mencegah penyakit. Dokter yang biasa-biasa saja mengawasi datangnya penyakit. Dokter yang bodoh mengobati penyakit yang menyerang.”

Pada akhirnya, memang apapun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian, setiap individu-lah yang berhak menentukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Namun, akan lebih baik jika pilihan itu dibuat setelah seseorang tahu berbagai informasi yang memang layak ia tahu. Sembari itu berjalan, negara dan pemerintah dengan segala daya potensi, termasuk soal bidan seperti yang diceritakan di atas sudah sepantasnya diberdayakan menjangkau masyarakat kecil dan pedesaan tentang kesadaran akan hidup sehat. Demikianlah semoga wacana kecil ini bisa berguna sebagai solusi dan mampu mencerahkan kebijakan yang menyangkut pangan.

 Referensi

 McDonald, Bryan. 2010. Food Security. Cambridge: Polity Press.

Tan Shot Yen. 2010. Saya Pilih Sehat dan Sembuh. Jakarta: Dian Rakyat.

Situs resmi Kementerian Pertanian Republik Indonesia, http://www.deptan.go.id, diunduh pada tanggal 29 Maret 2011.


[1] Saat itu, Departemen melakukan penelitian terhadap faktor-faktor apa saja yang bisa meningkatkan produksi beras dalam waktu cepat, misalnya seperti penggunaan benih unggul yang bisa berproduksi 2 kali lipat dari benih biasa. Dan juga, dilakukan program sekolah lapang, di mana para petani diberi benih unggul dan diajari bagaimana cara bercocok tanam yang baik, termasuk penggunaan pupuk yang tepat.

[2] Dikutip dari dr. Tan Shot Yen, M.Hum, seorang dokter yang selain menempuh pendidikan kedokteran juga menempuh pendidikan Filsafat Manusia. Ia yakin bahwa manusia hendaknya tidak diperlakukan sebagai mesin sebagaimana yang dilakukan oleh kedokteran modern selama ini. Manusia diciptakan oleh Sang Penguasa dengan segala kesempurnaan. Sejatinya, manusia (organ tubuh) punya daya untuk menyembuhkan diri sendiri secara alami. Bukan dengan obat, melainkan salah satunya dengan pola makan yang benar. Menurutnya, apa yang selama ini manusia lakukan adalah makan apa saja yang diinginkan, tapi tidak makan apa yang dibutuhkan.

[3] Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan bidan Emmy Riswati, salah satu peserta program Pos Bhakti Bidan yang diselenggarakan oleh Ikatan Bidan Indonesia dan PT Sari Husada dengan tujuan untuk membantu pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Wawancara dilakukan pada tang gal 21 Desember 2011.