BAB 1

PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Dalam prakteknya, Indonesia telah melaksanakan kerjasama bilateral yang dilakukan antara dua negara, satu kawasan dengan satu negara, dan satu kawasan dengan kawasan lainnya. Hubungan bilateral ini berlangsung dalam bidang politik, budaya, dan ekonomi antara dua belah pihak yang disesuaikan dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional inilah yang harus dirumuskan agar Indonesia tahu apa kebijakan luar negerinya terhadap negara lain. Kebijakan luar negeri juga merupakan salah satu faktor yang memicu datangnya dukungan dari luar, baik dari negara, organisasi kawasan, dan dunia internasional untuk Indonesia.[1]

Salah satu perwujudan kebijakan luar negeri Indonesia adalah melalui hubungan luar negeri dan jalinan kerja sama. Hubungan luar negeri Indonesia dalam forum bilateral, regional, dan multilateral telah dimulai sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Saat ini Indonesia telah menjalin kerjasama bilateral dengan 162 negara, termasuk dengan Vietnam. Selain kerjasama bilateral, hubungan Indonesia – Vietnam juga semakin diperkuat oleh keanggotan keduanya di ASEAN. Selain itu, hubungan Indonesia-Vietnam juga dilatari oleh kedekatan sejarah, baik dalam hal perjuangan bersenjata dan diplomasi untuk meraih kemerdekaan maupun dalam kedekatan ideologi yang pernah terjadi ketika masa pemerintahan kedua pemimpin bangsa, yakni Soekarno dan Ho Chi Minh. Hubungan diplomatik RI-Vietnam ditandai dengan pembukaan Konsulat RI di Hanoi pada tanggal 30 Desember 1955, yang selanjutnya ditingkatkan menjadi Kedutaan Besar RI pada tanggal 10 Agustus 1964.

Dalam perkembangan hubungan ini, dilaksanakanlah berbagai kerjasama di bidang perdagangan, budaya, pariwisata, dan sosial. Mengutip pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa hubungan Indonesia dan Vietnam selama ini progresif dan hal ini akan terus ditingkatkan. Hal ini disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Republik Sosialis Vietnam, Nguyen Tan Dung di Kanada pada tanggal 27 Juni 2010.[2]

Indonesia dan Vietnam memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang hampir sama dan tetap terpelihara dengan baik. Pemahaman terhadap nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat masing-masing negara tentu akan dapat meningkatkan persahabatan Indonesia dan Vietnam. Pun, kerjasama yang lebih banyak akan terselenggara. Untuk itu, salah satu cara untuk merealisasikan hal ini adalah dengan meningkatkan hubungan antar masyarakat atau people to people contacts dan kerjasama di bidang pariwisata dinilai adalah peluang tepat dalam membangun interaksi orang per orang dari kedua negara.[3]

Terakhir, perkembangan teranyar dalam jalinan kedua negara adalah pemberian Indonesian Embassy’s Awards kepada media massa Vietnam yang secara konsisten dinilai berperan aktif dalam memuat berbagai pemberitaan positif mengenai Indonesia. Pemberitaan ini dinilai sebagai kontribusi yang menonjol bagi KBRI di Hanoi selama menjalankan tugasnya.

1.2         Permasalahan

Dari latar belakang hubungan kerjasama dan kedekatan sejarah, sosial dan budaya antara Indonesia dan Vietnam maka kemungkinan konflik antar kedua negara dapat diredam. Ditambah lagi, dengan adanya pemberian Indonesian Embassy’s Awards kepada media massa Vietnam. Di satu sisi, hal ini menimbulkan sisi positif bagi negara Indonesia. Namun di sisi lain hal ini sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar peran, kontribusi, dan dampak yang diberikan media massa bagi pemerintah Indonesia sehingga KBRI Hanoi merasa perlu menerbitkan award ini.

Untuk menjawab permasalahan di atas, akan studi pustaka serta pengamatan terhadap berbagai pernyataan dari pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia mengenai hubungan Indonesia dan Vietnam. Dengan demikian, jelas tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan kepentingan dan kebijakan award pemerintah Indonesia terhadap media massa di Vietnam. Termasuk, apa dampaknya bagi kelanjutan kerjasama kedua negara, khususnya dalam rangka perwujudan Misi Perwakilan RI mengenai people to people contacts.

BAB 2

ANALISIS TERHADAP INDONESIAN EMBASSY’S AWARDSKEPADA MEDIA MASSA VIETNAM

2.1 Partisipasi Media Massa Vietnam sebagai Diplomasi Indonesia

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hanoi telah memanfaatkan forum-forum seperti Media Informal Gathering (MIG) untuk mempromosikan Indonesia dan menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan terkini Indonesia. Melalui forum ini pula, media massa di Vietnam bisa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai potensi Indonesia dan latar belakang serta perkembangan hubungan yang kedua negara kepada masyarakat Vietnam.

Adapun menurut Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, saat ini sekitar 700 surat kabar, majalah, televisi, media online dan radio yang setiap harinya melakukan pemberitaan di Vietnam.[4] Hal inilah yang dimanfaatkan oleh KBRI di Hanoi untuk memberitakan potensi positif terutama untuk bidang kepariwisataan. Apalagi, berdasarkan pengamatan terhadap data jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia menurut pintu negara dan kebangsaan pada tahun 2010 (Januari-Oktober), pengunjung dari Vietnam belum masuk ke 21 urutan wisatawan mancanegara Indonesia. Hal ini juga terkait dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 4 Februari 2010[5]:

“Yang tidak kalah pentingnya pariwisata. Pariwisata itu menurut saya masih banyak opportunity yang dapat kita ambil untuk meningkatkan kontribusi, pariwisata dalam national revenue. Saya berharap Saudara juga melakukan promosi-promosi berkelanjutan, tidak cukup sekali dua kali, tidak cukup dengan ada pameran sekali-dua kali, sepanjang masa. Lakukan semuanya itu”

Oleh karenanya, langkah KBRI dalam melakukan pendekatan promosi Indonesia melalui media massa dinilai cukup tepat karena penyebaran informasi media massa yang cepat dan meluas. Namun kendati demikian, pemberitaan itu harusnya diarahkan kepada hal-hal positif, terutama mengenai kepariwisataan sehingga dapat meningkatkan jumlah kedatangan turis mancanegara kebangsaan Vietnam ke Indonesia. Selain itu, keterlibatan media massa bisa menjadi jalan diplomasi bagi Indonesia, seiring dengan pernyataan Menteri Luar Negeri, Dr. R. Marty M. Natalegawa pada pembukaan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2010 di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri:

“Bentuk terbaik dari diplomasi adalah persahabatan yang mengarah kepada perdamaian dan kerjasama antar negara.”

Dengan melibatkan media massa melalui Media Informal Gathering oleh KBRI di Hanoi, maka ini mennunjukkan bahwa kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia telah diarahkan untuk membangun persahabatan yang lebih erat dengan Vietnam.

 2.2 Indonesia Embassy’s Awards

Pemberian penghargaan kepada stasiun televisi Vietnam “VTV4”, surat kabar berbahasa Inggris “Vietnam News”, dan majalah penerbangan dan pariwisata “Aviation” merupakan tindak lanjut pemerintah Indonesia dalam ‘bersahabat’ dengan media massa. Alasan pemberian penghargaan ini menurut Duta Besar RI untuk Vietnam, Pitono Purnomo antara lain karena media massa Vietnam telah melalukan pemberitaan yang positif mengenai Indonesia dan hubungan bilateralnya dengan Vietnam selama tahun 2010. Sebaliknya, masyarakat Indonesia di Vietnam juga semakin paham tentang Vietnam karena tetap berkumandangnya Radio Suara Vietnam dalam bahasa Indonesia sejak era perang kemerdekaan Vietnam sampai saat ini.[6]

Indonesia menyadari pemberitaan saja mengenai hubungan Indonesia-Vietnam dan potensi Indonesia belumlah cukup mampu menarik para turis Vietnam datang ke Indonesia. Sebelum hal ini tercapai, maka motivasi media massa dalam pemberitaan harus tetap dijaga. Caranya, dengan menerbitkan award. Langkah ini sederhana, tetapi tidak salah untuk diterapkan. Justru, baik untuk memelihara keakraban hubungan Indonesia-Vietnam.

 2.3 People to People Contact

Di berbagai negara, saat ini kebijakan mengenai people to people contact menjadi hal yang populer. Indonesia sendiri sejak tahun 2003 membuka Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI). Program rutin ini diselenggarakan untuk mengoptimalkan people to people contact melalui pendekatan seni dan budaya. BSBI tahun 2010 akan diikuti oleh 64 peserta dari 33 negara. Salah satunya antara lain Vietnam. Lewat program yang diselenggarakan Indonesia ini, peserta BSBI dari 33 negara akan berkesempatan untuk mengenal dan mempelajari seni dan budaya Indonesia, termasuk berinteraksi dengan masyarakat Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, konsep mengenai people to people contact dapat termanifestasikan. Hasil akhirnya, diharapkan bahwa aktivitas dan jalinan hubungan dari negara-negara yang berbeda akan membawa arti penting bagi diplomasi Indonesia dengan negara peserta.

Dalam rangka people to people contact inilah, salah satu alasan logis yang mendorong KBRI di Hanoi menggalakkan media massa dan memberikan award. Pasalnya, para penerima penghargaan berhak mengirimkan wartawannya untuk mengikuti program KBRI Journalist Visit Programme (JVP) dan menerima kompensasi penanggungan seluruh biaya serta akomodasi oleh KBRI Hanoi. Dengan demikian, pemberian award dapat menunjang aplikasi people to people contact .

Sementara itu, kebijakan luar negeri Indonesia dengan pendekatan diplomatis dan mengusung persahabatan ini juga harus disiapkan agar people to people contact membawa dampak positif bagi Indonesia dan negara-negara lainnya. Misalnya, people to people tidak akan membuat individu kehilangan identitas tetapi justru mengenal keunikan budaya dan negara lain.

2.4 Interpretasi terhadap Konsep Persahabatan vs Million Friends Zero Enemy

Mengacu kepada pernyataan Menteri Luar Negeri seperti disebutkan sebelumnya, bahwa bentuk diplomasi terbaik adalah persahabatan. Maka, timbullah pertanyaan mengenai apakah ini ada kaitannya dengan penjelmaan dari ‘banyak teman, tidak ada musuh’ yang menjadi pro dan kontra di banyak wacana saat ini. Jawabnya, bisa jadi demikian. Meskipun, dalam konteks hubungan dengan Vietnam, tanpa ‘million friends’  ini pun sebetulnya kedekatan hubungan Indonesia-Vietnam memiliki kekhasan dan kekhususan sendiri, utamanya oleh kedekatan sejarah, sosial dan budaya.

Secara praktis dan empirik, politik luar negeri suatu negara ditujukan untuk mengtasi tantangan dan memanfaatkan peluang. Dan memang, saat ini tidak ada negara yang mampu berdiri sendiri untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Mengapa? Jawabnya, karena lingkungan global semakin kompleks.[7] Sebagai aktor, negara diibaratkan sebagai ‘makhluk sosial’ yang perlu kerjasama, perlu interaksi, perlu bersosialisasi. Namun sayangnya, perumusan million friends zero enemy seolah terlalu terburu-buru. Konsep persahabatan harus dipahami sebagai kebijakan yang tidak dapat diterapkan dalam hubungan diplomatik dengan semua negara. ‘Banyak teman’ hanya akan menjadikan posisi Indonesia terjebak dan semakin rumit karena seolah menjilat ludah sendiri, misalnya sebagai contoh konflik Indonesia-Malaysia, atau konflik yang menyinggung integritas dan wilayah dan politik Indonesia seperti Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Dengan demikian, pemahaman  mengenai ‘banyak teman’ sudah seharusnya ditinjau ulang oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia. Bukannya tidak relevan, namun akan lebih baik jika tidak dinyatakan dalam bentuk yang gamblang. Sederhananya seperti perumpamaan: tak bicara cinta, bukan berarti tak cinta toh.

BAB 3

KESIMPULAN

Hubungan bilateral antar dua negara, khususnya Indonesia dan Hanoi perlu dirangsang, misalnya dengan pendekatan seperti yang dilakukan oleh KBRI di Hanoi. Penyebaran informasi dan secara meluas dan cepat, ini merupakan kunci pokok bagi usaha KBRI di Hanoi dalam melibatkan media massa sebagai bentuk diplomasi Indonesia. Mulanya, melalui Media Informal Gathering sebagai agenda untuk mempromosikan Indonesia mengenai potensi, kepariwisataan, dan hubungan kerjasama Indonesia-Vietnam. Utamanya, adalah kepariwisataan mengingat turis mancanegara kebangsaan Vietnam yang datang ke Indonesia melalui pintu utama negara belum mencapai jumlah yang signifikan.

Selanjutnya, taktik yang dilakukan Indonesia adalah pemberian Indonesian Embassy’s Awards sebagai penghargaan kepada media massa yang memuat pemberitaan positif mengenai Indonesia dan hubungannya dengan Vietnam. Diharapkan dengan adanya awarding ini, maka motivasi dalam memberitakan Indonesia tetap dipertahankan. Selain itu, hal ini juga sejalan dengan misi diplomasi yaitu people to people contact. Media massa yang memenangkan penghargaan akan mengirimkan wartawannya untuk diikutkan dalam program KBRI Journalist Visit Programme (JVP). Program ini memungkinkan saling interaksi antara masyarakat Indonesia dengan Vietnam.

Apa yang dilakukan KBRI di Hanoi ini dapat diasumsikan sebagai perwujudan konsep persahabatan sesuai kebijakan luar negeri Indonesia mengenai million friends, zero enemy. Dalam hubungan Indonesia-Vietnam, pertemanan kiranya memang relevan diterapkan. Namun, sepertinya tidak dengan semua negara. Akan lebih aman bagi Indonesia jika ‘banyak teman’ dan ‘persahabatan’ dibiarkan tetap dalam ranah konsep, bukan pernyataan resmi atau malah kebijakan. Pasalnya, penerapannya akan sulit dan justru melemahkan Indonesia sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bresnan, John. 2005. Indonesia The Great Transition. Lanham: Rowman & Littlefield.

Prasetyono, Edy. 2005. “Keamanan Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia” dalam Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia. Ed. Bantarto Bandoro. Yogyakarta: Centre for Strategic and International Studies.

“Hubungan Bilateral RI-Vietnam Sangat Maju.” Diunduh dari situs

http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2010/06/27/5578.html pada tanggal 29 Desember 2010.

“Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Pengikat Persahabatan RI-Vietnam”. Diunduh dari situs http://www.deplu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=4303&l=id pada tanggal 29 Desember 2010.

“Indonesian Embassy’s Awards Gairahkan Pemberitaan Positif Indonesia di Vietnam”. Diunduh dari berita utama dalam situs http://www.deplu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=4297&l=id pada tanggal 29 Desember 2010.

“Transkripsi Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Pimpinan Kementerian Luar Negeri dan Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri Istana Negara, Jakarta 4 Februari 2010”. Diunduh dari situs http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2010/02/04/1327.html pada tanggal 29 Desember 2010.

“Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara Melalui Pintu Negara dan Kebangsaan.” Diunduh dari situs http://www.budpar.go.id/filedata/5733_1931-WismanOktober2010.pdf pada tanggal 29 Desember 2010.


[1] Bresnan, John. 2005. Indonesia The Great Transition. Lanham: Rowman & Littlefield.

[2] “Hubungan Bilateral RI-Vietnam Sangat Maju.” Diunduh dari situs

http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2010/06/27/5578.html pada tanggal 29 Desember 2010.

[3] “Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Pengikat Persahabatan RI-Vietnam”. Diunduh dari situs http://www.deplu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=4303&l=id pada tanggal 29 Desember 2010.

[4] “Indonesian Embassy’s Awards Gairahkan Pemberitaan Positif Indonesia di Vietnam”. Diunduh dari berita utama dalam situs http://www.deplu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=4297&l=id pada tanggal 29 Desember 2010.

[5] Transkripsi Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Pimpinan Kementerian Luar Negeri dan Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri Istana Negara, Jakarta 4 Februari 2010”. Diunduh dari situs http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2010/02/04/1327.html pada tanggal 29 Desember 2010.

[6] Ibid.

[7] Prasetyono, Edy. “Keamanan Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia” dalam Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia. Ed. Bantarto Bandoro. 2005. Yogyakarta: Centre for Strategic and International Studies.