Intel didirikan di California tahun 1968 oleh Gordon E. Moore, Robert Noyce, dan Andy Grove yang merupakan pegawai ketiganya. Keberhasilan dari Intel tidak bisa dilepaskan dari upaya dan pemikiran jangka panjang CEO / ketiga orang ini. Sebetulnya berangkat dari keresahan bahwa kesuksesan dalam bisnis sekaligus menjadi benih kegagalan. Semakin besar kesuksesan, maka semakin besar pula risiko gagal. Keresahan ini kemudian dimanifestasikan dalam sebuah komitmen bahwa Intel harus memilik strategi dalam produksi desain dan terdepan dalam hal produksi perangkat komputer paling baru, paling modern, paling mutakhir. Dalam perjalanannya, perubahan Intel tidak selalu dimulai atau digerakkan oleh pemimpin tapi lebih kepada dipengaruhi oleh sikap pemimpin.

Awalnya, Intel hanya memproduksi memory chips yang kelak dipakai untuk keperluan produk-produk consumer electronic. Dua produk pertamanya diluncurkan pada 1969: Static Random Access Memory (SRAM) 3101 (64 bit ) 1101 (256 bit). Meski pasarnya masih terbatas, dua tahun berikutnya (1971), Intel sudah mengeluarkan produk baru: Dynamic Random Access Memory (DRAM) 1103 (1 kilobit). Sampai 1978, tak ada satu pun pemain lain yang bisa menghalau Intel dengan leluasa melepas produk-produk susulannya : 2 KB, 4 KB, 16 KB. Ini artinya, Intel berusaha mengalihkan produksi pada static random access memory (SRAM) ke 1103 dynamic random access memory (DRAM). Terbukti, penjualan DRAM berhasil mencapai hasil yang terbaik, bahkan mendukung sekitar 90 persen keseluruhan hasil penjualan.

Tak berhenti di sini, DRAM yang kemudian diluncurkan pun bervariasi. Mulai dari 1K, 2K, 4K, dan 16K sampai tahun 1979. Sampai akhirnya dimulailah era persaingan. Muncul kompetitor dari Jepang seperti Fujitsu dengan tipe 64K meski desainnya masih konvensional tapi mampu mengunguli Intel. Ketika Intel muncul dengan tipe 64K yang desainnya modern, Hitachi dan Fujitsu kemudian muncul dengan tipe 256K yang berhasil merebut pasar Intel. Begitu seterusnya sampai dikeluarkan tipe 1MB. Sayangnya, ketika Intel bersemangat mengembangkan 1 MB dalam jumlah banyak tapi tidak dikuti oleh penjualan yang agresif ke pasar sebelum Jepang juga meluncurkan produk yang sama. Produk ini kemudian dikatakan gagal karena tahun 1984, Intel terpaksa menghentikan produksi tipe 1M.

Tapi ini tak serta merta mematikan produk DRAM. Intel sudah merasa bahwa mereka adalah pakarnya dalam bidang teknologi driver ini, mengingat kebutuhan pasar terhadap DRAM akan selalu tinggi dengan harga yang terjangkau. Untuk itu, modal yang dikucurkan Intel untuk mengembangkan DRAM mencapai 1/3 dari total seluruh anggaran.

Andy Grove melihat bahwa untuk keberlangsungan Intel dan agar fokus produksi tidak terpecah-pecah, maka perlu adanya strategi manajerial. Jadi, keputusan atau kebijakan tak lagi hanya ditangani oleh manajemen senior tapi diserahkan juga kepada middle manager atau lini tengah seperti perencana produksi dan staf keuangan yang biasanya mengambil keputusan sehari-hari seperti mengalokasikan kapasitas produksi. Mereka secara sedikit demi sedikit menggeser pembuatan memori ke microprocessor dan mengambil kapasitas yang rugi kepada produk baru ini. Dari waktu ke waktu, sumber daya Intel digeser kepada industri baru yang sedang strategis: microprocessor.

Keluarnya Intel dari bisnis DRAM ini pun bukannya tanpa perhitungan. Ulasan berikut menunjukkan alasan mengapa Intel perlu fokus ke mikroprosesor:

Di awal tahun 1980, produksi semikonduktor dari Jepang mencapai 70-80 persen, dan Amerika hanya mencapai 50-60 persen. Ini tentu menjadi kemunduran bagi Intel dan produsen semi konduktor Amerika yang mulanya merintis bisnis dari awal.

Sayangnya, Intel di tahun 1970 mengindahkan inovasi yang diajukan oleh Ted Hoff, salah satu ilmuwannya. Awalnya dipesan oleh sebuah perusahaan Jepang untuk pembuatan kalkulator. Tapi, jauh lebih hebat dari yang diharapkan sehingga Ted mengajukan usulan untuk membuat CPU sendiri. Namun, Gordon Moore menolak usulan mengembangkan CPU sendiri dengan menggunakan mikroprosesor Intel yang menunjang sekali sebagai ‘otak’ komputer. Padahal, perusahaan lain justru melihat peluang besar dengan pengembangan CPU seperti Apple Computer (Steve Jobs dan Steve Wozniak) yang akhirnya memproduksi desktop pertama tanpa menggunakan mikroprosesor Intel di dalam CPU nya. Diikuti pula oleh Radio Shack dan Commodore. Ketiga perusahaan ini lalu memegang 2/3 dari total pasar dunia di tahun 1980 dengan dipimpin oleh Apple yang market share nya mencapai 27%.

Potensi yang dimiliki oleh Intel sebetulnya adalah karena mereka menguasai teknologi dalam produksi mikroprosesor. Sementara, ini yang tidak dikuasai oleh produsen desktop komputer. Satu-satunya pesaing Intel kala itu hanyalah Motorola.

Pesaing lain muncul. IBM masuk ke pasar mikrokomputer dengan PC dan targetnya cukup besar. Menurut IBM, target ini akan tercapai dalam waktu cepat jika bisnis PC ditumbuhkan dengan mengadopsi arsitektur terbuka. Ini artinya, IBM bisa memakai vendor pihak dari mana saja. Itulah peluang dan secara perlahan-lahan Intel keluar dari bisnis DRAM. Sejak itu Intel mulai memproduksi chips ,286, 386, dan seterusnya. Secara tidak langsung, pengusaha PC dapat menggunakan/merancang PC dengan software dan komponen termasuk mikroprosesor yang dibeli dari pengusaha komponen atau pihak ketiga penjual software dan komponen tersebut. Jadi, tidak selalu produsen membuat PC A sekaligus menggunakan komponen yang harus ia produksi sendiri.

Intel dan Motorola yang tadinya saling bersaing mulai mengarahkan perhatiannya untuk menyaingi IBM. Tahun 1980, Intel meluncurkan proyek CRUSH dan melakukan kontrak kerjasama dengan IBM. Intel memproduksi 2500 desain PC sendiri, sekaligus menyokong suplai mikroprosesor 8088 ke IBM.  Artinya, semakin laku PC IBM berarti semakin laku prosesor Intel. Ini sekaligus mengingatkan kita dengan jargon atau iklan “Intel Inside”. Sementara Motorola 68000 standar berhasil mendominasi pasar sampai akhir 1980 dengan merancang Apple’s Macintosh Computer. Untuk menyikapi ini, Intel semakin agresif lewat kampanye proyek “Checkmate” atau skak mat. Tujuannya untuk merebut kontrak kerjasama dengan Apple’s Macintosh.

Kesimpulannya mengapa Intel bisa berhasil:

–          Karakteristik individu eksekutif pada umumnya sangat percaya diri dan pengambil resiko;

–          bisnis DRAM merupakan industri yang unik;

–          Intel merupakan pihak yang pertama kali membuat chip memory dengan peralatan terbaru dan muncul di awal era komputer dikenal;

–          memiliki keunggulan dalam desain dan teknologi produksi; dan

–          menerapkan strategi pengembangan produk yang berupaya agar selalu menjadi pemimpin pasar. Sementara itu, setelah beralih fokus ke produk chip microprocessor, Intel berupaya membangun keunggulan bersaing dengan menerapkan kebijakan inovatif untuk membuat desain central processing unit (CPU) semikonduktor inovatif yang kemudian digunakan secara luas sebagai komponen utama komputer mikro.

 

Mengantisipasi kecenderungan ke masa depan, berkat sukses bisnis bersama IBM, Intel membuat kebijakan drastis menghentikan produksi DRAM yang semula menjadi lini bisnis utamanya dan fokus hanya pada microprocessor. Budaya entrepreneurship dan independensi manajer menengah dalam menentukan arah strategik dan dikombinasikan dengan perencanaan srategik menghasilkan pertumbuhan dan menjaga keunggulan. Selain itu, Intel menerapkan strategi outsourcing dengan menerbitkan lisensi kepada 12 perusahaan untuk memroduksi chip, keberhasilan strategi ini menobatkan Intel sebagai pemasok utama processor 80386 bagi semua produsen PC kecuali IBM. Untuk mengantisipasi pertumbuhan industri PC, Intel mengubah proses internalnya dengan membangun beberapa pabrik.

Dalam mengelola sumber daya untuk mencapai ketangguhan, Intel melakukan berbagai aksi yang mendukung strategi persaingan. Dalam menghadapi persaingan seiring munculnya standar Reduced Instruction System of Computing (RISC) Intel melakukannya dengan mendengarkan masukan dari pelanggan dan akhirnya membuat keputusan untuk tetap memroduksi microprocessor 80486, hal ini didukung oleh kenyataan pelanggan enggan menggunakan standard RISC dan ingin tetap menggunakan standard Complex Instruction System of Computing (CISC) yang menjadi konsep keunggulan Intel.

Dalam menghadapi produk – produk tiruan (cloning products) Intel mengembangkan strategi khusus yang dimaksudkan untuk menunjukkan kepada pelanggan dan pengguna komputer bahwa produk original – karya Intel – masih lebih unggul dari pada produk tiruan. Strategi ini dilakukan dengan investasi pada sumber daya manusia dan teknologi manufaktur. Intel menerapkan kampanye “Intel Inside” guna menjaga hubungan baik dengan pengguna komputer. Dengan kampanye ini diharapkan semua PC menggunakan processor Intel di dalamnya. Selain itu, dalam menyikapi makin pendeknya daur hidup microprocessor, Intel menetapkan harga premium untuk produk yang baru diluncurkan guna membatasi permintaan, hal ini tentu saja menciptakan peluang bagi Intel untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan pada awal sebuah produk baru. Ketika kompetitor sudah mulai memasarkan produk sejenis, dan kompetisinya sudah mulai sengit, secara bertahap Intel menurunkan harganya, sehingga menekan tingkat keuntungan pesaing. Di samping menerapkan strategi harga, Intel juga mengalokasikan produknya untuk Original Equipment Manufacturers (OEM) sehingga ada keseimbangan antara supply dan permintaan, dengan memerhatikan perilaku pembelian pelanggannya guna menentukan persediaan.

Sebagai informasi:

Bob Noyce, founder Intel, menegaskan bahwa perilaku independent para eksekutif lini tengah itu dengan budaya kewirausahaan yang berlaku di Intel. Mereka itulah yang menentukan masa depan perusahaan, katanya. Dalam suatu kesempatan, Noyce mengatakan:

”Orang-orang datang ke sini karena kemampuannya. Tugas kami adalah menyingkirkan segala halangan yang membelenggu orang -orang itu dengan memberikan keleluasaan sebesar mungkin. Cara terbaik bagi perusahaan untuk terbang lebih tinggi lagi dengan memberikan orang-orang berbakat itu alat-alat mereka butuhkan untuk dijalani sendiri.”

Sikap Noyce agak mirip dengan Michelangelo-pemahat terkenal yang mengatakan “seluruh batu cadas sesungguhnya mengandung ukiran patung yang indah. Tugas kita adalah menyingkirkan batu-batu yang membelenggu keindahan itu.” Dengan prinsip demikian, Noyce mendesain Intel. la sangat percayai akan muncul secara otomatis dari orang-orang pilihan ptimis. Katanya, “Optimisme adalah bahan baku utama inovasi! Orang-orang optimis berani bereksperimen, berani menghadapi birokrasi yang serba merasa tahu dengan terobosan–terobosan baru.

Misalnya, suatu ketika rekan-rekannya di Fair child sedang mencari material untuk menghubungkan emitter dengan base pada sebuah transistor. Noyce menganjurkan agar dipakai material dari aluminium. Tentu saja semua insinyur di sana menertawakannya. Sebab, secara fisika aluminium tidak mungkin dipakai, bertentangan dengan pengetahuan yang sudah ada. Nyatanya bisa. Aluminium bisa dipakai dan ia benar.
Jarang orang cerdas seperti Noyce bisa membangun perushaan sebesar Intel. Ia sendiri seorang brilliant scientist yang menemukan integrated circuit modern. Ia menerima berbagai medali keilmuan, termasuk Charles Scott Draper Award, hadiah nobel para enginer. Sekali lagi ia berujar:” Kuncinya adalah pada manusia–manusia yang entrepreneurial, terseleksi dengan baik, inovatif, dan berpikir sederhana. “ Tugas Anda adalah memberikan inspirasi dan kebebasan maka mereka akan bergerak dan berubah sendiri saat dibutuhkan.