Selayang Pandang Peluru Kendali (Rudal)

Peluru kendali atau disingkat rudal adalah senjata roket militer yang bisa dikendalikan atau memiliki sistem pengendali otomatis untuk mencari sasaran atau menyesuaikan arah. Rudal yang dikendalikan, bisa dikategorikan sesuai dengan sistem pengendali yang digunakan; cara pengontrolan dari jarak jauh dan cara pengontrolan sendiri. Biasanya, rudal terdiri atas perangkat pendorong, sistem pengendali, alat stabilisasi, hulu ledak, badan rudal yang menampung semuanya. Rudal yang dikendalikan, bisa dikategorikan sesuai dengan sistem pengendali yang digunakan, cara pengontrolan dari jarak jauh dan cara pengontrolan sendiri. Rudal yang bisa mencapai sasaran sejauh 1.000-5.500 km dikategorikan sebagai rudal jarak menengah, sedangkan untuk sasaran 500-1.000 km dikategorikan sebagai rudal jarak pendek. Selain itu, rudal juga bisa mengangkut senjata, biasanya bom atau peledak, dan bisa mengejar sasaran sendiri selama terbang dan secara akurat menghantam sasaran yang tidak bergerak atau bergerak.[1]

Khusus untuk rudal S-300 adalah rudal anti objek terbang yang disinyalir terkuta di dunia saat ini. Sistem rudal S-300 versi terbaru (S-300PMU1) mempunyai jarak tembak di atas 150 km serta mampu mencegat rudal balistik, pesawat pada ketinggian rendah dan tinggi, serta efektif menangkis serangan udara. (Lebih jelasnya, lihat spesifikasi S-300 pada bagian Lampiran). [2]

Tarik Ulur Penjualan Rudal Rusia ke Iran

Pada bulan Februari 2010, berlangsung kesepakatan Rusia dan Iran mengenai jual beli sistem pertahanan rudal S-300 ke Teheran. S-300 adalah sistem pertahanan udara jarak jauh yang dapat dipindah-pindahkan dan mendektesi serta mengandurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat yang terbang rendah. Pembelian S-300 ini telah didengungkan oleh Iran sejak 2007 lalu. Iran sendiri telah mendapat sanksi dari Dewan Keamanan PBB atas keputusannya mengembangkan uranium. Mulanya menurut Vladimir Nazarov, deputi Sekretaris Dewan Keamanan Rusia menyebutkan bahwa penjualan rudal tak akan terpengaruh oleh sanksi yang diberikan oleh DK PBB tersebut. Namun pada kenyataannya, perjanjian ini tidak terealisasi dengan segera. Sampai bulan September 2010, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengeluarkan surat keputusan yang melarang pengiriman sistem rudal pertahanan udara S-300 atas alasan Iran terkena sanksi dari PBB. Termasuk, melarang penjualan tank, pesawat terbang, kapal kepada Iran.[3]

Dalam hal ini, pembatalan atas alasan sanksi bukanlah alasan utama. Mulanya sepakat kemudian menolak merupakan sebuah strategi yang dijalankan oleh Rusia. Selama ini, Rusia tidak pernah menentang pengembangan nuklir yang dilakukan di Iran. Bahkan, selalu mendukung dan menganggap kerjasama nuklir dengan Iran adalah kerjasama yang efektif. Dalam pertemuan antara Ahmadinejad dan Medvedev di sela-sela pertemuan KTT di Laut Kaspia, keduanya intensif membahas mengenai kerjasama bilateral tersebut.

Ditambah lagi, Rusia bukanlah tipe negara yang rela menyenangkan Amerika Serikat dengan mendukung sanksi PBB terhadap pengembangan nuklir di negara manapun. Sebagai contoh, pada waktu yang hampir bersamaan dengan pembatalan rudal ke Iran, Rusia justru menjual rudalnya kepada Suriah yang juga menimbulkan protes keras oleh Israel dan Amerika Serikat, sama seperti saat muncul wacana mengenai perjanjian awal Rusia dan Iran pada tahun 2007 lalu. Dengan demikian, besar kemungkinan alasan sanksi PBB adalah kamuflase semata dari Rusia dan terkesan seperti pembelaan diri.

Terhadap Amerika dalam hal perluasan daerah pemasaran senjata, Rusia boleh merasa berada di atas angin mengingat tidak ada beban yang ditanggung dan tidak ada ketakutan terhadap pengurangan kekuasaannya di dunia internasional. Sebaliknya, Amerika perlu berhati-hati dan berada pada tahap security dilemma. Peningkatan persenjataan di negara lain di satu sisi membuat dominasi dan kekuasaannya terancam. Melalui dominasi di Dewan Keamanan PBB, Amerika mencoba membuat tunduk dan melarang pengembangan nuklir di negara lain. Tetapi, di sisi lain, hal ini berdampak kepada semakin nyolotnya negara-negara yang mendapat larangan dan sanksi untuk meneruskan keinginannya.

Rusia lebih fleksibel menyikapi perkembangan persenjataan di berbagai negara. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bagi Rusia untuk suatu saat kembali mengadakan kesepakatan jual beli rudal kepada Iran ataupun negara lainnya. Toh sampai saat ini sebelum muncul ketegangan akibat pembatalan rudal, hubungan kedua negara sangatlah erat. Untuk itu, ada harapan bahwa kedua negara tidak akan terlibat dalam konflik yang berkepanjangan.

Konspirasi Amerika Serikat

Lepas dari kerugian yang dialami Iran karena pembatalan rudal, Rusia pun mengalami hal yang sama. Menurut Rajab Safarov, ketua Pusat Kajian Iran Modern di Rusia, Moskow telah mengalami kerugian finansial dan politik atas pembatalan sistem anti rudal S-300 ke Iran. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Barat meyakinkan Rusia bahwa dengan membatalkan penjualan ke Iran maka sebagai gantinya Rusia boleh menjual rudal S-300 ke Arab Saudi.

Menurut pemberitaan, Arab Saudi menawarkan membeli senjata Rusia senilai 2,4 miliar dolar AS atau setara dengan 21,6 triliun rupiah jika Moskow berhenti mendukung Iran. Sebagai gantinya, Arab Saudi siap membeli sedikitnya 100 kendaraan tempur BMP-3, 150 tank T-90 dan 160 helikopter Mi-17, Mi-26 dan Mi-35. Namun kenyataannya, setelah Rusia membatalkan perjanjian kontrak dengan Iran, Arab Saudi justru membeli senjata senilai lebih dari 60 miliar dolar dengan Amerika Serikat.[4]

Ketertarikan Rusia terhadap penawaran Arab Saudi membuatnya berpaling dari Iran. Hal ini bukannya tak berdasar. Jika dibandingkan dengan penjualan rudal ke Iran, nilai 2,4 miliar dolar tentu lebih besar dibandingkan menjual rudal S-300 ke Ira yang nilainya hanya mencapai 800 juta dolar AS.[5] Alhasil, Rusia tidak mendapat hasil baik dari Iran maupun dari Arab Saudi kecuali Rusia berhasil mengajak Iran untuk kembali berunding dan melanjutkan kerjasama. Sayangnya, pembatalan rudal ke Iran ini sekaligus membuat tercorengnya citra Moskow sebagai penjual senjata yang dapat dipercaya.

‘Penipuan’ yang dilakukan oleh Arab Saudi merupakan aksi keberpihakan terhadap Amerika Serikat yang selama ini selalu berusaha mencegah Iran mengembangkan sistem pertahanan keamanannya terutama dalam hal persenjataan. Salah satunnya, dengan cara memanfaatkan Rusia. Perlu diingat pula bahwa hubungan antara Iran dan Arab Saudi tak pernah akur menyusul kedekatan Arab Saudi dengan Amerika Serikat yang anti Iran.

Reaksi Iran terhadap  Pembatalan Rudal S-300 dari Rusia

Reaksi awal yang timbul adalah kecaman terhadap Rusia yang dinyatakan melalui pidato di hadapan media massa Iran. Presiden Iran Ahmadinejad menujukan kecaman kepada Presiden Rusia Dmitry Medvedev, seperti yang dilansir dalam salah satu pemberitaan di media massa berikut ini:

“Beberapa orang dalam pengaruh Setan (Amerika Serikat) berpikir bahwa bila mereka dapat membatalkan beberapa perjanjian pertahanan secara sepihak dan gelap, yang telah mereka sepakati dengan kita, maka mereka akan membuat Iran terluka. Mereka pergi begitu saja dan ‘menjual’ kita kepadamusuh dengan membatalkan kesepakatan yang telah mereka lakukan. Saya ingin mengatakan kepada mereka sebagai perwakilan dari Anda bahwa kita menganggap perjanjian tersebut masih berlaku dan mereka harus memenuhinya. Jika tidak, Iran akan menuntut hak terhadap kehilangan sebagai akibatnya dan denda dari perjanjian itu.”[6]

Reaksi berupa pernyataan mengecam tampaknya akan direspon oleh Rusia dalam beberapa waktu mendatang. Iran juga menegaskan bahwa pembatalan rudal dengan alasan bahwa Rusia tunduk kepada sanksi PBB tidaklah tepat. Pasalnya, Dewan Keamanan PBB tidak melarang soal penjualan senjata. Tak hanya mengecam dan menuntut Rusia atas pembatalan kontrak, reaksi Iran sebagai pihak yang dirugikan dan dikhianati oleh Rusia juga diwujudkan dalam aksi selanjutnya. Pemberitaan mengenai rencana Iran yang akan merancang sendiri  sistem pertahanan udara yang kemampuannya sama dengan rudal S300 produksi Rusia, meskipun Rusia meragukan kemampuan Iran dalam membangun rudal sehandal dan setara dengan S-300.

Sebagai langkah selanjutnya, mengarah kepada perkembangan kasus bahwa Rusia juga menjadi korban politik adu domba Amerika Serikat dan Arab Saudi, masih tetap ada kemungkinan Iran dan Rusia kembali rujuk dan melanjutkan kerjasama bilateral mereka. Namun untuk mewujudkan itu, diperlukan pendekatan yang intensif dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik dengan baik.


[1] Definisi rudal diunduh dari situs http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/news_04a.htm pada tanggal 30 Desember 2010.

[2] “Iran Mulai Balas Rusia Pembatalan Pengiriman S-300.” Dikutip dari situs http://beritahankam.blogspot.com/2010/07/iran-mulai-balas-rusia-pembatalan.html, yang diunduh pada tanggal 30 Desember 2010.

[3] Sumber berita didapat dari situs http://rindam-brawijaya.blogspot.com/2010/09/rusia-habiskan-613-miliar-dolar-untuk.html pada tanggal 30 Desember 2010.

[4] “Saudi Tawari Rusia Miliaran Dolar untuk Putuskan Hubungan dengan Iran.” Dikutip dari situs http://rol.republika.co.id/berita/213/Saudi_Tawari_Rusia_Miliaran_Dolar_untuk_Putuskan_Hubungan_dengan_Iran dan “Safarov: Rusia ditipu habis-habisan oleh Barat”, dikutip dari situs http://indonesiandefense.blogspot.com/2010/11/safarov-rusia-ditipu-habis-habisan-oleh.html yang diunduh pada tanggal 30 Desember 2010.

[5] “Rusia Batalkan Jual Rudal S-300 ke Iran.” Dikutip dari situs http://bataviase.co.id/node/392854, yang diunduh tanggal 30 Desember 2010.

[6] “Ahmadinejad Kecam Rusia.” Diunduh pada tanggal 30 Desember 2010 dari http://metrotvnews.com/metromain/newscat/internasional/2010/11/03/33172/Ahmadinejad-Kecam-Rusia.