Part One

Latar Belakang

Keruntuhan komunis dan Uni Soviet pada tahun 1991 melahirkan negara Rusia sekaligus sebagai ahli waris utama Uni Soviet. Pasalnya, negara Rusia mewarisi sekitar 50 persen jumlah penduduk, 2/3 luas wilayah, kurang dari 50 persen aset ekonomi dan persenjataan Uni Soviet. Rusia merupakan negara Federasi yang menganut sistem pemerintahan Republik yang dipimpin oleh seorang Presiden dengan dibantu Perdana Menteri.[1] Selain itu, Rusia juga mewarisi sistem pertahanan dan keamanan Uni Soviet yang telah dibangun semenjak Perang Dunia, terutama saat era Perang Dingin. Sebagai kekuatan utama di Blok Timur melalui Pakta Warsawa, Uni Soviet pernah menjadi satu-satunya saingan yang setara dan utama bagi Amerika Serikat.

Pada masa awal transisi, Rusia mengalami situasi dalam negeri yang serba sulit akibat warisan krisis ekonomi dan politik yang sebelumnya terjadi menjelang keruntuhan Uni Soviet. Namun meskipun demikian, Rusia terus berkembang hingga saat ini. Terutama, dalam hal pertahanan keamanan. Kekuatan militer, nuklir, dan peluncur ruang angkasa merupakan perangkat keamanan utama yang dibanggakan oleh Rusia. Kekuatan lainnya adalah sistem pertahanan rudal Rusia yang semakin meningkat produksinya. Rudal jarak jauh dengan jangkauan ratusan hingga ribuan kilometer milik Rusia terbagi menjadi 2 jenis, yaitu rudal balistik (ballistic missile) dan rudal jelajah (cruise missile). (Lihat Lampiran Daftar Rudal Rusia) Atas kemampuan produksi rudal ini, Rusia patut berbangga. Rudal jarak jauh generasi baru seperti RS-24 misalnya, merupakan rudal antar benua yang akan dimodifikasi lebih modern untuk melindungi diri dari sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Rudal RS24 juga akan melengkapi tameng rudal Rusia dengan tujuan mengimbangi pertahanan rudal Amerika Serikat.[2] Hal ini juga didukung dengan efektivitas penggunaan anggaran militer Kremlin dibandingkan AS, meski jumlahnya masih lebih rendah. Tetapi, fokus Rusia tidak terbagi dan semata-mata untuk membangun kekuatan militer internal ketimbang AS yang membiayai perang di Irak dan Afghanistan. Alhasil, melihat perkembangan militer Rusia yang signifikan, banyak kalangan berpendapat bahwa Rusia berupaya melakukan restrukturisasi untuk mewujudkan kembali keadigdayaan seperti waktu Uni Soviet dulu.

Permasalahan

Kekukuhan dan fokus Rusia dalam membangun instrumen keamanannya memang telah diakui oleh dunia. Namun di sisi lain, peningkatan ini menimbulkan implikasi yang hebat akan perkembangan kekuasaan Rusia pada masa yang akan datang. Berulang kali media memuat berita yang menyebutkan adanya indikasi Rusia tengah menyusun kekuatan untuk memulihkan kejayaan di masa lalu. Seperti yang dilansir dari Radio Nederland Wereldomroep[3] berikut:

“Di televisi Rusia, nostalgia kepada Sovyet dulu merupakan suguhan tayangan sehari-hari. Film-film Sovyet, artis-artis Sovyet dan seterusnya. Tetapi tidak pernah menyebutkan adanya teror di mana-mana dan pembunuhan massal. Bahkan cara memuji Presiden Vladimir Putin pada pemberitaan televisi, tetap merupakan kenangan tidak menyenangkan terhadap jaman Sovyet dulu.

Ketua Memorial, bekas pembangkang Arseni Roginski, tahu alasan pujian terhadap Sovyet yang sekarang ini. Kerusuhan politik dan krisis ekonomi sepanjang tahun 1990an, telah menyebabkan banyak orang Rusia merasa rendah-diri, ujarnya. Terutama generasi tua merindukan kejayaan Sovyet. Dengan demikian mitos tentang kerajaan Rusia Raya muncul kembali, dan dipoles sedemikian rupa agar seusai dengan Presiden Putin, yang juga bekas intel KGB. Sudah tentu presiden bisa melakukan hal itu tanpa harus membongkar pelanggaran HAM di masa lalu dan sekarang.”

 

Indikasi ini tentu menimbulkan kewaspadaan dan kecemasan dunia, khususnya Amerika Serikat yang setelah Perang Dingin memainkan peran negara hegemoni dan kekuatan tunggal di dunia. Kebangkitan Rusia melalui keamanan militer seperti pertahanan rudal seolah dikhawatirkan AS akan mengancam eksistensi dan pengaruh AS. Ditambah lagi, munculnya aktor-aktor negara yang mengembangkan nuklir seperti Iran dan Korea Utara. Negara Iran misalnya tertarik dengan sistem pertahanan rudal dan mulai mengadakan kerjasama pembelian rudal dari Rusia. Untuk itu, timbullah pertanyaan bagaimana aksi dan reaksi yang muncul seputar perkembangan rudal Rusia. Sekaligus, kaitannya dengan kasus pembatalan penjualan rudal antara Rusia dan Iran.


[1] Fahrurodji, A. 2005. “Rusia Baru Menuju Demokrasi Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya.” Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

[2] “Sistem Pertahanan Rudal Rusia Lebih Canggih dari AS.” Diunduh pada tanggal 30 Desember 2010 dari situs http://international.okezone.com/read/2008/12/02/18/169678/sistem-pertahanan-rudal-rusia-lebih-canggih-dari-as.

[3] Strijbosch, Margreet. “Rusia Rindu Kembalinya Zaman Uni Soviet”, tanggal 18-08-2006. Diunduh dari situs http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/eropa/eropa/rusia_rindu_soviet-redirected pada tanggal 30 Desember 2010.